Now Reading:
Menekan ‘Beauty’ Halal di Korea
Full Article 3 minutes read

Menekan ‘Beauty’ Halal di Korea

kholic.id – Perkembangan kosmetik Korea di berbagai belahan di dunia semakin besar. Namun di masih jarang yang belum mendapat sertifikat halal, yang sebenarnya bisa menjadi salah satu daya tarik besar bagi konsumen Muslim maupun Non Muslim.

Untuk mendapatkan sertifikasi halal, produk korea dilarang menggunakan bahan gelatin, keratin, atau kolagen yang berasal dari babi. Begitu juga dengan alkohol, yang secara dimanfaatkan sebagai pengawet produk juga dilarang. Selain itu, pengujian terhadap hewan dan zat hewani tertentu dilarang.

Setiap jenis produk kometik dapat mendapat sertifikasi halal, selama mereka memenuhi persyaratan. Produk harus mndapat sertifikasi dari lembaga-lembaga khusus seperti Departemen Pembangunan Islam Malaysia atau Majelis Ulama Indonesia.

(dari kiri) Logo halal asal Korea, Indonesia, dan Malaysia | Foto: ist

“Aku tidak pernah menggunakan krim dengan gelatin, “kata Asmaa Ahmeed, seorang warga Muslim di Seoul. Ia selalu teliti membeli produk di toko obat lokal, dengan memeriksa bahan-bahan yang tercetak pada label.

Lain lagi dengan pendapat Mira Filza, muslim asal Indonesia. “Setelah pindah ke Korea, aku harus berhenti menggunakan produk bersertifikat halal. Itu harga yang harus aku bayar,” ujarnya. Ia menekankan jika, “Aku mencoiba untuk berhati-hati tentang zat itu, tapi aku selalu merasa ragu.”

Berbagai perusahaan luar negeri seperti L’Oreal asal Paris dan BASF asal Jerman telah memproduksi produk kecantikan sesuai dengan standar halal internasional. Sayangnya, perusahaan Korea masih ragu untuk mengikuti jejak mereka.

“[Pelanggan kami] lebih tertarik pada citra merek dan kualitas produk daripada standar agama seperti sertifikasi halal,” katak humas Amorepacific. “Kami sedang mempelajari dan prosudur uji untuk sertifikasi halal demi pengembangan masa depan.”

Sulwhasoo sebagai salah satu anak perushaan Amorepacific| Foto: Sulwhasoo

Hal tersebut kemungkinan dikarenakan populasi Muslim di Korea relatif, sekitar 130 ribu tinggal di Korea (menurut Federasi Muslim Korea).

Akibanya, banyak perusahaan lokal menganggap sertifikasi halal jauh lebih hemat. Beberapa merek kosmetik perintis, menekankan bahwa halal juga dapat menarik pelanggan non-Muslim karena alasan etika dan kesehatan.

Seperti yang dilakukan Puresh, brand asal Korea yang mempromosikan diri di Malaysia. Merek perawatan kulit yang diproduksi mendapat sertifikat halal dan ini menjadi dayatarik bagi ‘pelanggan sensitif’.

“Apa yang berasal dari alam bisa halal. Tetapi karena bahan-bahan diproses oleh manusia, adanya bahan buatan, mereka memiliki banyak peluang untuk menjadi ;haram, atau apa yang dilarang,” katak Lee Ma Eum, seorang manajer pemasaran Puresh.

Produk yang disertifikasi sebagai halal adalah organik dan vegan, yang berarti konsumen yang memiliki kulit sensitif atau yang sadar pada konsumen etika konsumen dapat menggunakan produk tersebut,” katanya. “Disertifikasi menjadi halal berarti itu tidak hanya diizinkan secara agama, tetapi juga aman dan etis.”

So, kamu pilih yang mana chingudel?

Sumber: Korea Herald

Leave a Reply

Input your search keywords and press Enter.